Sebuah Pidato tentang Pendidikan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi dan salam sejahtera.
Yang terhormat, Ibu Guru Bahasa Indonesia kita, dan yang saya sayangi teman sekalian.
Pertama sekali, marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya lah kita masih dapat berkumpul di saat yang berbahagia ini.
Hadirin yang berbahagia.
Menjalani tahun ketiga di sekolah menengah atas ini, atau tahun keduabelas semenjak menginjak bangku sekolah, kita semua sadar bahwa tahun ini adalah momen krusial untuk masa depan kita. Namun, kita semua setuju bahwa sistem pendidikan di negeri yang kita cintai ini masih carut-marut.
Tiap tahunnya, jutaan orang menghujat pemerintah disebabkan oleh suatu hal yang disebut “Ujian Nasional”. UN memang menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan kalangan siswa, guru, bahkan sekolah.
Entah berapa siswa yang bunuh diri karena tidak lulus UN, guru-guru yang tidak tega melihat muridnya gagal, sehingga membenarkan segala cara. Siswa-siswa yang sangat takut gagal, ironisnya sebagian dari mereka juga lugu, lugu karena malas belajar, lugu karena tidak peduli dengan masa depan, lugu dengan menyepelekan hal-hal kritis yang menyangkut masa depan mereka. Bahkan, hingga direksi sekolah yang terbelenggu oleh kontur prestise, sehingga angka-angka nilai di ijazah tidak lebih dari distorsi formalitas dari sebuah kelulusan. Begitu juga dengan pihak-pihak yang ‘pintar’ memanfaatkan situasi, dengan menjual dan membocorkan kunci jawaban.
Meneydihkan.
Lalu, kita bertanya, siapa yang salah? Menurut saya, semuanya salah. Mulai dari pemerintah yang membuat sistem bertitel ujian ‘nasional’, tanpa mempertimbangkan kualitas pendidikan per daerah, sarana dan infrastruktur sekolah yang timpang di berbagai penjuru negara, desa atau kota, daerah maju maupun pedalaman.
Siswa-siswa yang terlalu ‘lugu’, yang paranoid terhadap eksistensi UN, guru-guru yang bukannya membebaskan stigma keluguan tersebut, tapi malah menyarankan jalan-jalan pintas., dan juga direksi sekolah yang sangat ‘peduli’ terhadap perstise sekolahnya, sehingga menjustifikasi praktek-praktek kecurangan.
Saya sendiri bukan orang yang pragmatis, maupun altruistik. Bukan siswa yang tidak pernah menyontek. Atau tidak pernah mengikuti naluri remaja saya untuk berbuat bandel, sehingga membuat guru-guru dan direksi sekolah geram kepada saya.
Tapi saya yakin, kita semua ingin tanah air ini menjadi negara yang lebih baik, dimulai dari kualitas pendidikannya.
Oleh karena itu, pemerintah yang membuat titel ‘Ujian Na-sio-nal”, berarti seharusnya mengerti bahwa siswa di seluruh negeri yang luas ini mempunyai hak, peluang, dan kenyamanan yang sama akan sistem dan kualitas pendidikan.
Kepada teman-teman para siswa, jadikan UN itu sebagai tantangan, bukan beban.
Guru-guru dan direksi sekolah, tanpa mengurangi rasa hormat, silahkan geram kepada murid-murid Anda yang terlalu lugu.
Sekian pidato saya, semoga dapat bermanfaat. Mari berharap sistem dan kebijakan pemerintah tahun ini merupakan sinyal positif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Kita bisa kalau kita mau.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
7:20 PM
|
Labels:
Assignment
|
0 comments:
Post a Comment