Ilmu Saya Bisa Lebih Diterima di Masyarakat

Mencari lapangan kerja di zaman sekarang ini sangatlah sulit. Namun, pengusaha yang satu ini sangat berani mengambil resiko. Jika kebanyakan orang sudah merasa puas bekerja di perusahaan ternama, namun tidak bagi Zulhadlin (50). Pada tahun 2003, ia sudah mendapat jabatan dan penghasilan yang lumayan di PT Telkom, tapi dia tidak merasa puas. “Ilmu saya bisa lebih diterima di masyarakat, dan memiliki nilai jual yang tinggi”, begitu prinsipnya saat memutuskan untuk keluar dari Telkom.
Pada awalnya, ia membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi bernama PT Indo Sejahtera Com. “Pada awal membangun perusahaan, keadannya masih sulit, terutama fasilitas, bahkan kantor saja saya masih menyewa.”, ujarnya. Perusahaan tersebut bertambah besar, dan ia mengembangkan, juga membangun perusahaan-perusahaan lainnya lagi. Sampai sekarang, ia telah memiliki 6 perusahaan. Kebanyakan diantaranya bergerak di bidang telekomunikasi. Selain itu, ada juga yang bergerak di bidang game dan elektronik, sampai distributor air mineral. Semua perusahaannya tergabung dalam satu grup bernama Ridho Jaringan Mas (RJM).
Perusahaan-perusahaan miliknya lah yang men-supply operator-operator seluler. Membangun infrastruktur, kabel, jaringan, sampai tower; begitulah bisnis yang ia jalani. Perusahaan-perusahaannya telah berkembang ke seluruh pulau Sumatera, dengan omzet mencapai Rp 25 miliar per tahun. Ia mengatakan bahwa mengelola perusahaan tidaklah begitu rumit. “Yang penting memiliki peraturan-peraturan yang jelas, dan memastikan semua karyawan mematuhi peraturan.” Ia juga melakukan investasi dengan mengembangkan alat-alat dan fasilitas perusahaan, sampai memperhatikan standar pendidikan karyawannya.
Saat ditanya bagaimana cara mengelola perusahaannya, ia mengungkapkan bahwa modal bukanlah segalanya. “100% saham saya yang pegang. Tidak boleh terlalu banyak tangan dalam mengatur perusahaan, jika tidak maka tak akan ada titik temu keputusan.” Dalam membuka lapangan kerja, ia tidak sembarangan dalam proses perekrutan karyawannya. Dengan mempublikasikan iklan lowongan kerja di surat kabar, ia akan menyeleksi calon-calon karyawannya lewat tes, dan bila lulus akan di-interview langsung olehnya. “Saya tidak peduli latar belakang pendidikan calon karyawan saya, dari universitas ternama atau bukan. Yang penting mempunyai skill, kecakapan, dan kepribadian yang baik. Dari 100 orang yang melamar dan ikut tes di perusahaan saya, yang lulus hanya satu dua orang”, ujar bapak dua orang anak ini sambil tertawa kecil.
Menanggapi perkembangan telekomunikasi di Indonesia yang sedang pesat-pesatnya, ia menyatakan bahwa negeri ini tidak kalah hebat dengan negara-negara tetangga. Untuk jangka panjang, ia mempunyai ambisi untuk mengembangkan perusahaannya ke seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara.
Dalam memulai bisnis, membangun dan mengelola perusahaan pasti menemui banyak rintangan dan masalah, namun harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin. “Hidup ini punya empat tahap, yaitu: belajar, implementasi, menjual, dan mencapai cita-cita. Untuk sukses di tiap tahap tersebut, kuncinya adalah fokus, obsesi, dan disiplin!” ungkapnya penuh semangat. Selain itu, lulusan S1 Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan S2 Sekolah Tinggi Manajemen Bandung ini juga menyangkal bila kedudukannya sekarang sering membuat stress. “Stres? untuk apa stress? bahkan kalau kita tidak punya pekerjaan juga kita tidak perlu stres. Yang penting, kita tahu bagaimana menangani dan mencari jalan keluarnya”.
12:34 AM
|
Labels:
Assignment
|
0 comments:
Post a Comment