An Exquisite Pleonasm
This begins when I began to read a friend's notes, in which there were multitude of great words plus delicate arrangement of literary-but-literal phrases.
His name is Rahmat Sanjani Ramadhani.
Within this post, I'm officially a fan of his inscriptions.
And below is my favorite one B-)
Redefining our relationship
Sunday, May 1, 2011 at 4:07am
Banyak orang terkejut ketika kita berdua memutuskan untuk menjalani hidup kita masing2, tanpa diikat ataupun terikat lagi. 14 bulan merupakan rentang waktu yang relatif panjang untuk remaja2 labil seperti kita. Orang luar melihat kita berdua sebagai pasangan yang ideal, yang hampir tidak pernah bertengkar & saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu paradoks pun terjadi pada saat bersamaan ketika kita memutuskan untuk berpisah.
Hubungan kita merupakan hubungan khas anak remaja, penuh bumbu2 romansa panggilan mesra, setiap hari dimulai & diakhiri dengan menyatakan perasaan kita masing2, entah itu dari pesan singkat maupun kecupan jarak jauh di telepon. Kita berdua menyatakan perasaan kita masing2 masih dalam bentuk kuantitas, entah itu dalam kalimat ‘I love you’ yg berderet panjang kebawah ataupun I miss you yg diulang – ulang frase ‘so much’-nya. kita mengagumi banyak hal pada waktu itu, terutama ketika hujan turun & kita berteduh bersama. Entah apa yg dikandung tetes2 air itu sehingga suasana melankolia terasa begitu kental, sehingga setiap kali kita bertatapan & tersenyum pada saat itu, aku hanya bisa terpaku diam & kebingungan mencerna setiap informasi yg masuk selain bunyi rintik & genggaman hangat tanganmu. Entahlah, akal sehat selalu padam ketika kita jatuh cinta, membuat kita menjadi insan2 yg tak tentu arah, terkadang tersesat di tengah kegelapan, namun tak jarang beberapa yg berhasil menyalakan cahaya.
Dulu, aku sangat suka membandingkanmu dengan semua hal2 indah yg kutemui, seperti ketika ku terjaga larut malam & melihat hanya ada 1 bintang yg berkelip, ku menamakannya dengan namamu. Ketika hujan reda & pelangi muncul di kejauhan, aku membayangkannya seperti senyummu. Naif memang, ketika kita dikuasai oleh emosi itu, semuanya akan terlihat indah. Aku tahu mungkin kau akan tertawa geli membaca pernyataanku tadi, tapi percayalah, para pujangga sekalipun akan mengatakan hal yg sama ketika mereka sudah tidak bisa mempercayai pikiran mereka sendiri. Ketika para ahli sibuk bertengkar memperdebatkan definisi perasaan yg membuncah di dalamku, aku sendiri hanya bisa menikmatinya, dan terima kasih apabila kau ternyata merasakannya juga. Indah bukan? Ketika anganmu dipenuhi dirinya & ternyata dirinya juga melamunkanmu, setiap sorot matanya berbinar & kau tahu dia merasakan hal yg sama setiap kali kau menatapnya, tak heran mengapa banyak orang yg memilih mati ketika perasaannya itu tak terbalaskan.
Ketika kita berpisah, aku mengalami fase reality crash, dimana otakku tidak bisa mencerna kehilangan besar yg terjadi pada waktu yg bersamaan ketika suaramu telah menjadi candu. Perlahan – lahan aku mencoba bangkit & menerima semuanya dengan wajar, namun tidak berhasil sepenuhnya. Lubang besar yg kautinggalkan membayangiku setiap hari, lubang yg penuh dengan kenangan & harapan atas dirimu. Lubang itu penuh dengan bau busuk kedukaan & keputusasaan ketika aku tak berhasil menemukan seseorang yg sebaik dirimu. Rentang waktu 8 bulan itu menjadi sangat lama, persepsi tentang waktu menjadi relatif lebih lamban ketika aku menghabiskannya dengan rangkaian2 flashback. Setiap tindakan yg kulakukan mungkin tidak menyiratkan kehilanganku pada orang2 disekitar, karena aku tak mau melihat mereka mengutuk diriku sendiri & termenung. Tapi percayalah, Tuhan mungkin ikut bersedih ketika Ia melihat kedalam benakku. Mungkin tadi terdengar hiperbolis & mengada – ngada, tapi itu semua benar. Introspeksi demi introspeksi kujalani untuk mencari letak kesalahanku, semuanya berakhir dengan sia – sia. Mungkin aku yg terlalu egois, atau tidak peka, tapi sekarang itu semua sudah tidak berarti lagi.
Hari sabtu kemarin menjadi bab baru di cerita kita, sebuah awal yg baru, setelah rangkaian pendewasaan yg kita jalani bersama, kita pun siap memulai lagi dari pertama. Menyadari realita bahwa tidak ada yg akan bertahan selamanya, kita hanya bisa berusaha mempertahankan hubungan kita selama mungkin. Kita akan terpisah oleh jarak & kesibukan seorang mahasiswa, hubungan kita akan teruji, perasaan kita akan ditantang. Tapi bukankah dengan itu semua kita menjadi pasangan yg jauh lebih matang? Karena kita berbeda, & perbedaan itulah yg akan menguatkan kita. Karena kita tidak mencoba menerjemahkan perasaan ini, tetapi mencoba memahaminya & merasakannya. Karena kita tidak mendambakan kesempurnaan, tetapi mencoba menciptakannya. Karena kita sudah bukan Twelzrofoureva lagi, kita telah bermetamorfosa menjadi lembaran2 cerita yg baru.
Dan ketika semuanya dimulai dengan kecupan hangat sebelum kita terpisah, kuharap kita akan selalu tegar & tetap tersenyum di tiap chat, telepon, maupun SMS, di tengah2 kesibukan kita di badan kemahasiswaan atau ketika kita kelimpungan menyelesaikan SKS yg menumpuk. Kita memulai semuanya sebagai sahabat, & biarkanlah kita tetap menjadi sahabat di tengah2 rengut erat & manja ketika kita berjumpa. Karena kau pasti tahu apa yg kurasakan dari setiap nada suaraku di telepon, smileys di chat maupun SMS, & bahagia rasanya melihatnya terefleksi dari sorot matamu & senyummu. Di setiap fragmen momen kita berdua, yg telah membekas menjadi memori audiovisual permanen, yg tak jarang terbawa alam bawah sadarku ketika ku terlelap, sosokmu akan selalu menemaniku di setiap kesendirianku. Tanpa perlu kuucap kata yg sakral itu, kata yg dirayakan di seluruh dunia, kata yg terkadang diucapkan berlebihan tanpa mengenalnya lebih jauh, engkau tahu aku akan selalu mengenalmu dengan kata itu, ya, kata itu. Kata yg membangun semuanya dari nol, kata yg membuat kita kembali bersatu. And because of that word, our relationship has been redefined.
:)
1 comments:
Padahal tadi cuman iseng buka blog, but i've become a fan too! This post is so sincere. May i have the name of his blog? :D
Post a Comment